I.
TOPIK
Perilaku burung merpati terhadap rangsangan suhu
II.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimanakah
perilaku burung merpati pada saat suhu tinggi (di bawah sinar matahari
langsung) ?
2.
Bagaimanakah
perilaku burung merpati pada saat suhu ruangan ?
3.
Bagaimanakah
perilaku burung merpati pada saat suhu dingin (pada malam hari) ?
III.
TUJUAN
Mengetahui perilaku burung merpati terhadap rangsangan suhu
IV.
DASAR
TEORI
Dalam
suatu ekosistim suhu dapat mengatur pertumbuhan dan penyebaran hewan yang hidup
didalamnya. Proses ini karena suhu mempengaruhi unsur fisik dan fisiologis
tubuh hewan. Suhu yang terlalu tinggi dapat merusak enzim, sel, jaringan,
organ, permibilitas membran, hormon serta menguapkan cairan tubuh. Sedangkan
suhu yang terlalu rendah dapat menghambat kerja enzim, hormon metabolisme dan
pembekuan protoplasma.
Setiap
hewan(organisme) memiliki titik kardinal suhu yang berbeda dengan hewan
lainnya. Titik kardinal adalah titik-titik yang menunjukkan batas suhuh
maksimum, suhu optimum dan suhu minimum yang masih bisa diterima oleh hewan.
Suhu
maksimum adalah suhu tertinggi yang masih memungkinkan hanya 50% anggota
populasi suatu hewan bertahan hidup. Suhu minimum adalah titik suhu terendah
yang memungkinkan hanya 50% anggota populasi suatu hewan bertahan hidup. Suhu
optimum adalah nilai suhu yang memungkinkan populasi suatu hewan menjalani
hidup paling baik dan menghasilakan keturunan paling banyak
Pengaturan
suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah
elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan
berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood
animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan
endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah
hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan).
Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu
lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan,
amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya
berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm
umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Dalam pengaturan suhu
tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke lingkungan.
Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu
konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas
tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda. Konveksi adalah transfer panas
akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah
emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek
yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Evaporasi
proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam
bentuk gas. Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu
lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan
meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di
dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah
madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya.
Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam
sarangnya.
Meskipun
burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya
terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok
hewan yang disebut Archosauria. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan
perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh
terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke
tempat yang lebih rendah. Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa
sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa
jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin
lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian
rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di
tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya
rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang
dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot
terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari
zat tanduk. Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih
pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi.
Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni
hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung
juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan,
gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi
dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya. Burung berkembang biak dengan
bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena
berkapur. Beberapa jenis burung seperti burung maleo dan burung gosong,
menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur serasah, tanah pasir pantai
yang panas, atau di dekat sumber air panas. Alih-alih mengerami, burung-burung
ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk, panas matahari, atau panas
bumi menetaskan telur-telur itu; persis seperti yang dilakukan kebanyakan
reptil. Akan tetapi kebanyakan burung membuat sarang, dan menetaskan telurnya
dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari
tumpukan rumput, ranting, atau batu; atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar
sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. Namun
ada pula jenis-jenis burung yang membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau
unik, seperti jenis-jenis manyar alias tempua, rangkong, walet, dan namdur. Merpati
adalah jenis hewan yang panas tubuhnya dari hasil metabolisme dimana suhunya
lebih konstan. Merpati akan cenderung melakukan perilaku yang berbeda- beda
pada suhu yang berbeda untuk menyesuaikan suhu tubuhnya terhadap suhu lingkugan
sekitarnya. Ada berbagai jenis burung merpati, diantaranya dibedakan berdasarkan bentuk badan:
1. Kipas
(Fantail): Berasal dari India dan Cina. Tanda mencolok ekornya menyerupai
kipas. Tetapi karena ekor panjang, kita harus sering memotongnya agar bisa
kawin. Kelemahan burung ini, harus dicarikan indukan lain untuk mengasuh anak.
2.
Jacobin:
Diberi nama seperti itu karena bulu-bulu yang mengitari kepalanya menggambarkan
topi yang dipakai pendeta-pendeta Jacobin. Burung diternakkan dengan warna
putih, jitam, biru, perak, merah dan kuning.
3.
Frillback:
Burung yang istimewa tetapi kurang popular. Merpati ini berbulu ikal di bandan
dan sayap, sehingga ditemukan adanya bulatan-bulatan kecil bagaikan bulu. Ada
yang jambul ada yang tidak. Burung yang baik harus punya ikal yang kokoh. Warna
ada yang hitam, putih, kebiruan, kemerahan, kekuningan. Yang kemerahan dan
kekuningan dianggap sebagai bentuk yang baik.
4.
Cropper:
Bersanak dekat dengan pouter. Keduanya menjadi keluarga besar, dengan
cirri-ciri hampir sama. Salah satu cropper yang terkenal adalah English Cropper.
Tembolok besar, berdirinya tegak, badan dan pnggang langsing dengan kaki
panjang. Termasuk merpati yang tinggi karena bisa setinggi 50 cm dari kepala
sampai kaki. Pada tembolok merpati ini ada gambar bulan sabit dengan kedua
ujung bertemu di dekat kedua matanya. Ujung sayap, bagaina bawah badan, kaki
dan bulu-bulu putih di sayap menggambarkan bintik-bintik seperti bulu.
5.
Jenis
lain dari Cropper adalah Pouter yang mudah dijinakkan dan menyenangkan. Jenis
lainnya adalah Holle Cropper yang berbentuk seperti merpati kipas, tetapi tidak
berekor kipas. Jenis lain Cropper adalah Valencia Cropper yang bertembolok
menggantung, mengembang seakan dibusungkan.
V.
ALAT
DAN BAHAN
1.
Panca
indra
2.
Burung
merpati
3.
Kamera
VI.
PROSEDUR
KERJA

VII.
TABULASI
DATA
|
No
|
Waktu dan tempat
|
Perilaku
|
|
1
|
Pagi hari di rungan terbuka
|
Burung merpati menunjukkan perilaku yang wajar, burung merpati
hanya diam
|
|
2
|
Siang hari di tempat terbuka dibawah sinar matahari
|
Burung merpati terlihat aktif, lebih banyak bergerak dan terlihat
gelisah
|
|
3
|
Malam hari di tempat terbuka
|
Merpati terlihat diam, kepalanya agak masuk, bulu mengembang
|
VIII.
PEMBAHASAN
Hewan mempunyai kemampuan adaptasi
terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia
dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon
yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm
(misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok
dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan
panas di dalam sarangnya.
Beberapa adaptasi hewan untuk
mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada burung dan
mamalia, otot, dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi
pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah
satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Perilaku adalah hal yang
penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi, relokasi, dan sembunyi
ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh. Gajah
di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan
daun telinga ke tubuh. Manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku
unik dalam termoregulasi
Merpati adalah jenis hewan yang suhu
tubuhnya bergantung pada metabolisme di dalam tubunhnya. Merpati akan
menyesuaikan diri terhadap suhu lingkungannya dengan berbagai perilaku, dimana
periku tersebut akan membantu merpati dalam bertahan hidup.
Pada suhu ruangan( pagi hari di
ruangan terbuka) merpati akan menunjukkan perilaku yang biasa atau wajar. Tidak
ada perubahan fisik yang terjadi pada diri merpati seperti mengembangnya bulu
atau mengecilnya bulu. Hal ini dikarenakan suhu pada tempat penelitian adalah
suhu optimal bagi merpati, suhu tubuhnya stabil dan sesuai dengan suhu
lingkungannya sehingga merpati tidak melakukan adaptasi terhadap lingkungannya.
Ketika merpati di letakkan pada
tempat yang terbuka yang terkena sinar matahari langsung, merpati akan lebih
aktif dan banyak bergerak seperti, melompat, terbang berpindah pada tempat yang
berbeda, kepalanya bergerak seperti kebingungan. Ciri ini terrlihat setelah
beberapa saat burung merpati di letakkan pada tempat terbuka dan terkena sinar
matahari langsung. Setelah burung merpati diletakkan di tempat terbuka yang terkena
sinar matahari langsung suhu badan merpati dan suhu lingkungan berbeda, karena
pada sebelumnya merpati di letakkan di tempat yanng redup yang tidak terkena
matagari secara langsung. Sedangkan suhu lingkuangan lebih tinggi dikarenakan
penyinaran secara langsung oleh sinar matahari pada siang hari, maka ketika
merpati di letakkan pada tempat percobaan yang suhunya lebih tinggi, merpati
akan melakukan adaptasi terhadap lingkungan tersebut. Adaptasi yang dilakukan
merpati berdasarkan hasil penelitian, merpati akan lebih banyak bergerak
seperti terbang berpindah tempat, terlihat seperti kebingungan.
Ketika suhu lingkungan dingin(di
tempat terbuka ) merpati terlihat diam. Kepalanya agak masuk, dan bulunya
mengembang. Ciri tersebut yang terlihat diakibatkan suhu yang dingin, sehingga
merpati akan mengembangkan bulunya agar suhu tubuhnya naik. Pada keadaan dingin
merpati tidak melakukan banyak gerakan, merpati cenderung diam pada satu titik
tempat. Tidak ada gejala-gejala yang lain yang timbul selain mengembangnya bulu
dan kepala sedikit masuk kedalam
IX.
KESIMPULAN
Berdasrkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
1.
Hewan
akan melakukan adaptasi terhadap lingkungannya untuk bertahan hidup
2.
ketika
merpati di beri perlakuan berupa suhu yang berbeda, maka merpati akan
menunjukkan perilaku yang berbeda
3.
merpati
akan melakukan perubahan fisik berupa pengembangan bulu ketika suhu dingin(di
tempat terbuka malam hari), dan banyak bergerak ketika suhu panas(di tempat
terbuka siang hari), dan biasa saja ketika dalam suhu kamar(di ruangan terbuka
pagi hari)
X.
DAFTAR
PUSTAKA
Cederer.
Roger J.1984. Ecology And Field Biologi. California: Cummings Publising
Compny
Biyobe,
Wakhid.2011. Perilaku hewan. P.MIPA: Universitas Lampung
Bandar Lampung
Notoadjmojo, soekidlo.Merpati.
Jakarta. Rineka cipta
Peterson,
Roger Tory. 1978. The birds. Canada: Silver Burdet Company
Soeseno,
Ari.2007. Memelihara
dan beternak burung merpati. Jakarta: Penebar swaz
LAMPIRAN



Comments
Post a Comment