Inilah saya, lahir di klaten pada1994 dari
keluarga yang sederhana. Saya lahir bukan pada lingkungan yang memiliki
kekuatan agama yang besar, namun masih hanya sebatas status yang mereka
tuliskan pada KTP, Islam. Namun kegiatan-kegiatan agama sudah ada mengelilingi budaya diadaerah saya, mulai dari
hari raya qurban, ied, puasa rhomadon, berzakat, dan yang lainnya, namun semua itu masih
sebatas kebudayaan yang mereka miliki dari orang tua, jadi mereka tidak
mangetahui apa yang menjadi hakekat dari budaya yang dilakukan . Mungkin dari situlah
penyebab semuanya dimulai. Semuanya mulai berubah ketika seseorang mengawalinya, mungkin hanya
beberapa orang yang sudah mengenal agama dengan baik, mengetahui hahekat yang
mereka lakukan itu apa . Ada beberapa orang yang mulai berani berdakwah dilingkungan ini,
mengajak pada islam yang sesungguhnya yaitu islam yang memiliki batin, yang
memiliki kesungguhan dalam menjalankannya kerena setiap sesuatu yang dilakukan
akan mendapat imbalan, baik sesuatu itu buruk akan mendapat imbalan, sesuatu
itu baik juga akan mendapat imbalan.
Salah satu orang itu adalah ayah saya, beliau dan kawan-kawannya mulai mensosialisasikan islam yang benar. Sudah bahasa lama ketika sesuatu yang baru itu akan ditolak, namun itu semua tidak membuat menyerah karena menyebarkan kebaikan itu adalah perintah. Kebudayaan islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa membuat kesemuanya itu menjadi sulit untuk dirubah, terutama orang-orang tua atau kaum tua. Mereka tetap berpegang pada apa yang telah mereka miliki, karena mereka yakin bahwa itulah yang paling benar. Namun islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa sekaligus juga menjadi celah yang bisa dimasuki, tidak menjadi sulit ketika mereka dikenalkan dengan sholat, membayar zakat, tentang puasa, kerena hal seperti itu talah mereka lakukan, hanya saja mereka belum seutuhnya memenuhi kewajiban itu, sehingga ketika kewajiban-kewajiban yang mereka lakukan itu disempurnakan tentu mereka menerima dengan baik. dan ternyata hal itu mulai diterapkan, mereka yang mempunyai masih mempunyai anjing, karena mereka tau jika masih ada anjing atau patung di rumah mereka maka malaikat tidak mau masuk, mereka mulai membuang anjingnya. Mulailah dibangun TKA/TPA untuk pendiidkan anak-anak, mulailah diadakan pengajian walau masih jarang, mulailah diadakan jamaah yasinan. Perubahan-perubahan kecil mulai terjadi yang tentunya mengarah pada hal bagus, mereka yang dahulunya masih meminum khomer mulai meninggalkannya, begitu pula judi. Mungkin dari situlah ceritaku akan dimulai.
Salah satu orang itu adalah ayah saya, beliau dan kawan-kawannya mulai mensosialisasikan islam yang benar. Sudah bahasa lama ketika sesuatu yang baru itu akan ditolak, namun itu semua tidak membuat menyerah karena menyebarkan kebaikan itu adalah perintah. Kebudayaan islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa membuat kesemuanya itu menjadi sulit untuk dirubah, terutama orang-orang tua atau kaum tua. Mereka tetap berpegang pada apa yang telah mereka miliki, karena mereka yakin bahwa itulah yang paling benar. Namun islam yang bercampur dengan kebudayaan jawa sekaligus juga menjadi celah yang bisa dimasuki, tidak menjadi sulit ketika mereka dikenalkan dengan sholat, membayar zakat, tentang puasa, kerena hal seperti itu talah mereka lakukan, hanya saja mereka belum seutuhnya memenuhi kewajiban itu, sehingga ketika kewajiban-kewajiban yang mereka lakukan itu disempurnakan tentu mereka menerima dengan baik. dan ternyata hal itu mulai diterapkan, mereka yang mempunyai masih mempunyai anjing, karena mereka tau jika masih ada anjing atau patung di rumah mereka maka malaikat tidak mau masuk, mereka mulai membuang anjingnya. Mulailah dibangun TKA/TPA untuk pendiidkan anak-anak, mulailah diadakan pengajian walau masih jarang, mulailah diadakan jamaah yasinan. Perubahan-perubahan kecil mulai terjadi yang tentunya mengarah pada hal bagus, mereka yang dahulunya masih meminum khomer mulai meninggalkannya, begitu pula judi. Mungkin dari situlah ceritaku akan dimulai.
Keluargaku memang bukan keluarga terpandang, karena bukan orang kaya
ataupun orang pintar, atau orang yang memiliki pengaruh, namun semangat yang
dimiliki ayahkulah yang mungkin menjadikan ini semua terjadi, menjadi memori
kenangan dan juga jalan hidup yang melekat pada diriku.walaupun aroma islami
mulai menyerbak, namun semua itu masih dalam batas, kerena pengetahuan akan
islam masih sangat sederhana, masih sebatas lahir, ibadah-ibadah lahiriah,
kewajiban- kewajiban lahiriah, namun pengetahuan spiritual akan kenyamanan hati
ketika memeluk agama islam masih minim. Aku mulai masuk pondok pesantren, awal
dari ceritaku yang baru.
Ketika aku ditawari untuk masuk pesantren, mungkin bukan
hanya aku tapi kebanyakan anak akan menolak, begitu juga aku. Kerena pandangan setiap orang pada waktu itu pondok
pesantren adalah tempat yang ketat, penuh peraturan, terkakang, mungkin bagi
orangtua itu tempat yang bagus namun bagi pandangan anak-anak pesantren itu
tmapat yang mengerikan. Setelah dibujuk dan dibujuk tentunya dengan sedikit
memaksa karna ayah saya memang agak keras orangnya dengan rasa terpaksa saya
mau. Toh katanya “dicoba dulu, belum tentu kamu gak suka kan?”. Aku menerima
tawaran itu karena aku masuk pesantren bersama sepupuku, yang
waktu itu kelas dua SMP sedangkan aku kelas satu. Lokasi pesantren yang lumayan
dekat dengan sekolahku, menjadi salah satu alasan kenapa aku mau masuk
pesantren. Karena aku belum boleh membawa motor, jadi ketika itu aku berangkat
dari rumah menuju ke sekolah dengan menggunakan sepeda, jaraknya lumayan, kata
teman-temanku 5,5-6 km. Temanku yang sudah terbiasa tak merasa kesulitan
bersepeda sejauh itu, tetapi bagiku rasanya kaki ini mau lepas tiap pagi dan
siang naik sepeda dengan jarak sejauh itu. 45 menit sampai satu jam waktuku
untuk menempuh jarak itu, mungkin ada yang bertanya,’ kok lama banget?’. Memang
lama, karna jalannya bukan jalan yang lurus, tapi berkelok-kelok dan juga naik
turun. Aku sekolah di daerah Cangkringan, Sleman. Entah tanggal berapa aku
masuk pondok pesantren itu, tapi yang jelas, sore hari aku sowan pak kyai dan selang beberapa hari, sorenya aku datang lagi dengan
membawa tas berisi baju dan buku. Setelah berbincang sedikit dengan pak kyai,
ayahku meminta izin untuk berpamitan, kepada pak kyai dan tentunya kepadaku.
Aku hanya mencium tangannya sambil tersenyum. Mungkin senyuman itu dapat
sedikit menipu kalau
sebenarnya aku ingin menangis. Dibantu teman-teman baruku aku mulai naik ke
atas, karena kamarku di lantai dua. Mulai ku tata baju-bajuku di almari. Dan
ketika itu, tak sengaja ada yang memanggil namaku, perasaan aku belum
berkenalan dengan siapa-siapa, ternyata dia teman satu kelasku. Mulailah kami berbicara
tentang ini
dan itu, alasan kami masing-masing kenapa masuk pondok pesantren ini. Aku mulai
nyaman dengan keadaan lingkungan ini. Sore itu ketika aku selesai menata
barang-barangku, aku mencari kakak sepupuku, ternyata dia juga sedang
berbincang dengan teman-temannya. Tenyata sudah banyak kenalan, sama, teman SMP
juga. Malam pertama aku di pesantren. Adzan magrib mulai berkumandang, setiap
santri mulai mengenakan baju adat meraka, sarung baju koko dan peci. Begitu
pula aku, busana ala santri mulai kukenakan, yang tadinya celana jeans yang kukenakan aku
lepas kuganti dengan sarung. Kami semua shalat berjamaah di satu masjid,
tentunya dengan santri putri, karna masjid itu lumayan luas, berlantai dua.
Sebenarnya berlantai tiga namun lantai tiga itu tidak digunakan. Hanya ada satu
kamar, kamar pak kyai. Selesai shalat magrib berjamaah, kami semua mengambil
alquran dan bergegas menuju suatu tempat di pinggir masjid, sedikit seperti
ruangan terbuka, disitulah kami membaca alquran, tidak satu persatu namun
berkelompok. Kelompokku tentu santri-santri baru, sekitar lima sampai tujuh
orang. Kami mangaji secara tartil bersama-sama. Aku yang belum terlalu bisa
membaca alquran merasa kesulitan mengikuti bacaan mereka yang lumayan lancar.
Selesai mengaji alquran bersama-sama aku hanya menunggu sejenak ditangga dekat
kamar, sambil menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan karena tidak ada
jadwal yang tertulis yang bis aku baca. Terdiam lama, mereka mulai turun
keserambi masjid dan aku pun mengikutinya. Iseng aku bertanya” mas, mau ada apa?”, “khitobah”
jawab dengan singkat dan senyum. Dalm pikirku apa itu khitobah, aku pikir
seperti kutbah jumat, karna besok pagi akan ada sholat jumat. Belum sempat aku
bertanya lagi, tapi acara sudah dimulai. Aku mulai menyimak acara yang
berlangsung, cukup meriah apalagi dipenuhi dengan penghuni-penghuni baru yang
ingin tau. Lelucon-lelucon ala pesantren yang mereka keluarkan yang membuat
suasana semakin mencair, membuat tertawa mereka yang mengerti. Aku juga
tertawa, tapi tak begitu mengerti apa yang membuat mereka tertawa ketika
kata-kata itu dikeluarkan, dan aku yakin teman-teman sebayaku yang baru tak
mengerti pula. Suasana yang menyenangkan di malam itu. Kegiatan berakhir
sekitar pukul setengah sembilan malam, dan rasanya mataku ingin menutup cepat, beda sekali dengan
mereka yang sudah lama ada di pesantren, wajah segar masih tampak pada senyum dan tawa
mereka. Malam itu kegiatan
dilanjutkan dengan belajar bersama, berbeda sekali dengan keadaan dirumah,
antualisme dalam belajar sangat tinggi. Belajar kami lakukan dikamar
masing-masing. Tidak diharuskan belajar agama, namun belajar apa saja. Teman
sekamarku adalah kakak kelas disekolah, jadi menjadi keuntunganku juga bisa
bertanya jika aku kesulitan dalam masalah peajaran sekolah.
Malam itu juga aku tidur di
pesanren, untuk yang pertama kali aku tidak bias tidur. Bayangan dirumah masih
tetap ada, mungkin memang wajar yang biasanya aku tidur didekat orang tua
sekarang aku tidur sendiri. Rasa tak nyaman terus muncul, berfikir besok ada
apa, kegiatan apa, sekolahku bagaimana, semua terpikirkan dalam satu waktu.
Terkadang airmata menetes tak terasa sambil sesegukan. Malam itu aku bias tidur
walau agak larut malam. Rasanya belum lama tidur aku sudah dibangunkan oleh
suara bel, sontak aku terbangun begitu juga sepupuku, lalu teman sekamarku
memeberitau bahwa itu tanda waktu shubuh. Dingin terasa menusuk kulit, tapi
tetap saja, semua santri bangun dengan mata masih sedikit menutup mereka
mengambil air wudu bersiapa untuk sholat subuh berjamah. Ada beberapa yang
belum bangun, mereka adalah kakak-kakak yang sudah lama si pesantren itu, namun
ada saja pengurus pondok yang membangunkan mereka-mereka yang belum bangun.
Pagi itu rutinitas berjalan, setelah sholat subuh, kami mengaji kitab. Kitab
fiqih dan adab, itu bagi kami yang masih pemula, sedangkan untuk yang sudah
agak lama entah kitab apa yang mereka gunakan. Selesai mengaji kami saling
berebut masuk kamar, mengambil peralatan mandi. Maklum, kamar mandi di
pesantren hanya beberapa, tapi yang memakai lumayan, jadi kami dengan sedikit
terpaksa harus mangantri dengan sabar menunggu guliran. Mungkin itulah yang
menjadi kenangan kami, canda dan tawa selalu keluar ketika ada kesempatan
bersama seperti itu, walau sedikit menyebalkan, namun hal itu juga cukup
menyenangkan. Selesai mandi, kami bersiap. Ada yang sudah rapi akan berangkat
kuliah, ada yang memakai sragam sekolah, akupun tak ketinggalan mengenakan
atribut sekolah. Hari pertama masuk kuliah dari pesantren. Mungkin sekilas bagi
temanku yan belum tau aku dipesantren melihat aku biasa-biasa saja, tapi bagi
mereka yang tau,sindiran selalu ada” pak kyai, pak kyai”. Tertawa kecil aku
lemparkan menyambut canda dari teman-teman. Dikelaspun aku belajar dengan
wajar, hanya pendangan mereka lebih berbeda kepadaku, lebih menghargai. Mungkin
karena tau akuk ada dipesantren, namun semua itu tak membuat mereka menjauhiku.
Justru aku semakin akrab dengan teman-teman, apalagi kakak kelas dari
pesantren. Siang itu aku pulang bersama-sam berjalan bergerombol. Geng santri,
itu sebutan untuk kami. Rasa tak ingin cepat sampai muncul ketika santri putrid
berjalan dibelakang kami, memang sengaja kami berjalan lambat. Ada yang iseng
menggoda mereka. Kebersamaan itulah yang aku dapat, rasa kekeluargaan, rasa
menghargai, tidak ada golongan diantara kami, entah itu anak pejabat, PNS,
petani, ataupun mereka yang kaya dengan yang miskin, semua sama tak ada yang
membedakan. Hanya satu yang menjadi tolak ukur dari kami, yaitu kaepintaran dan
pengetahuan ilmu.
Seminggu, sebulan, dua bulan
rutinitas itu terus berlanjut. Sekolah, mengaji, tidur. Sekolah, mengaji,
tidur. Semua berjalan dengan baik, aku mendapat pengetahuan agama yang cukup
banyak, mulai dari pengetahuan fiqih, adab, membaca alquran, tentang
ketentraman hati. Semua itu membuatku lebih dewasa dibandingkan teman-teman
sebayaku, yang mereka masih suka marah ketika permintaan mereka tidak dituruti
orang tua mereka, aku mulai bias menerima ketika aku meminta sesuatu tapi orang
tuaku tidak menuruti. Dan masih banyak yang lain hasil yang aku dapatkan dari
beberapa bulan di pesantren, lingkungan yang begitu islami membuat diriku malu
ketika aku berbuat buruk, dan mungkin hal itulah yang kemudian menjadi
kebiasaan yang terus aku aku lakukan walau ketika dirumah. Aku hanya pulang
ketika waktu libur-libur sekolah, itupun hanya beberapa hari, karna aku harus
kembali ke pesantren. Namun semua pengalaman di pesantren itu memberikan hal
yang sangat bermanfaat dihidupku, khususnya dalam pembentukan pola pikir.
Sekian dan semoga dapat bermanfaat.
Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh